Langsung ke konten utama

PENGARUH LIKUIFAKSI PADA BUMI DONGGALA-PALU


Pandu Arif Nugroho
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Gunadarma.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1                            Abstrak

Tahun 2018 Bumi Indonesia bagian Donggala-Palu diguncang gempa berkekuatan 7,4 SR yang menyebabkan kabar duka menyebar ke seluruh Bumi Indonesia. Total korban yang tercatat mencapai ribuan jiwa meninggal dan ratusan luka-luka. Tentunya keruggian materi tidak dapat dihindari dan tidak terhitung jumlahnya.
Dalam jurnal ini akan dibahas tentang dampak dari gempa bumi yang menyebabkan bencana likuifaksi di Kota Palu. Likuifaksi atau juga bisa disebut pencairan tanah adalah wujud yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya dampak dari terjadinya gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau lunak.
Jika mengamati proses terjadinya Likuifaksi sebenarnya mudah, namun permasalahan utamanya adalah likuifaksi ini tidak dapat dideteksi dulu berbeda dengan tsunami yang bisa dideteksi menggunakan alat. Namun, Likuifaksi dapat dikurangi potensi terjadinya dengan Metode Soil Boring.

1.2                            Rumusan Masalah

Dari Penjelasan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.             Apa pengaruh likuifasi terhadap bangunan?
2.             Bagaimana cara atasi potensi likuifasi?

1.3                            Tujuan Penulisan

Berdasarkan permasalahan di atas, penulis dapat menyimpulkan tujuan yaitu:
1.             Untuk mengetahui pengaruh likuifasi terhadap bangunan.
2.             Untuk mengetahui cara mengatasi potensi likuifasi.

1.4                            Manfaat Penulisan

Dengan adanya jurnal ini, dapat diperoleh manfaat yang antara lain:
1.             Jurnal ini dapat digunakan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi geoteknik dansituasi geologi berupa nilai faktor keamanan dan informasi hubungan antara situasi geologi dengan potensi likuifaksi. Hasil kajian diharapkan dapat sebagai acuan dalam rencana tata ruang, pengembangan wilayah, dan rekayasa konstruksi bangunan sipil.
2.             Jurnal ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi dalam mempelajari potensi likuifaksi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1                            Pendahuluan
Likuifaksi atau juga bisa disebut pencairan tanah adalah wujud yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya dampak dari terjadinya gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau lunak.
Karena tanah berubah menjadi cairan maka paling beresiko adalah adalah tempat yang memiliki tipe tanah berpasir, karena pasir cenderung memiliki  pori atau rongga dan mudah untuk terkena tarikan. Hilangnya struktur tanah akibat kehilangan kekuatan atau kemampuan untuk memindahkan tegangan geser inilah yang disebut sebagai pencairan.

2.2                            Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Terjadinya Likuifaksi
Likuifaksi memiliiki faktor-faktor penunjang terjadinya fenomena tersebut, antara lain karakteristik getaran, jenis tanah, muka air tanah, distribusi diameter butir, kepadatan awal, drainase dan dimensi deposit.

2.3                            Dampak dari Terjadinya Likuifaksi di Palu
Gempa yang terjadi di Palu tahun 2018 dengan kekuatan 7,4 SR  menyebabkan rumah dan bangunan yang ada di atasnya roboh dan ikut bergeser. Permukaan tanah menjadi turun dan membuat perbedaan permukaan (seperti ada bukit ada yang turun dan naik permukaannya).
                                        
2.4                            Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup penelitian mencakup dua hal, yaitu:
1.             Studi Pustaka dan literatur yang berkaitan dengan penelitian
2.             Pengumpulan data sekunder

2.5                            Metode dalam Mengatasi Potensi Likuifaksi
Likuifaksi terjadi akibat tanah yang menjadi jenuh sehingga kehilangan kekakuan serta kekuatan karena adanya tegangan, misalnya gempa bumi ataupun perubahan lain secara mendadak dan menyebabkan sifat tanah yang padat berubah menjadi cairan.
Jika mengamati proses terjadinya Likuifaksi sebenarnya mudah, namun permasalahan utamanya adalah likuifaksi ini tidak dapat dideteksi dulu berbeda dengan tsunami yang bisa dideteksi menggunakan alat. Likuifaksi sangat bergantung pada getaran dan juga gempa, sehingga anda tidak bisa menilai bahwa gempa tersebut bisa menyebabkan pencairan tanah atau tidak.
Jelasnya bahwa fenomena gempa bumi yang terjadi di zona dengan tanah yang mengandung air tinggi sangat beresiko untuk terjadi likuifaksi. Biasanya fenomena ini terjadi untuk tanah yang dekat dengan laut atau pantai seperti letak Kota Palu. Bisa juga terjadi gempa di area yang kaya akan air dan juga tanahnya berpasir. Maka likuifaksi bisa terjadi begitu saja.
Namun, Likuifaksi dapat dikurangi potensi terjadinya dengan metode berikut:
1.             Lapisan tanah yang berupa pasir dapat dikeringkan sebelum membuat bangunan di atasnya.
2.             Menggunakan Metode Soil Boring untuk melihat apakah ada hal yang dikhawatirkan dapat menyebabkan Likuifaksi.
 Penjelasan tentang Metode Soil Boring:
Lubang-lubang bor (boreholes) hampir selalu merupakan bagian yang utama dari setiap penyelidikan tanah. Ada bermacam-macam jalan untuk membuat lu­bang-lubang bor, yang prinsip-prinsipnya dapat diutarakan sebagai berikut :

Bor Tangan (Hand Bores).
Bor tangan mempergunakan berbagai macam "auger" pada ujung bagian bawah dari serangkaian setang-setang (rods) bor. Bagian atas dari rangkaian stang bor ini mempunyai tangkai (handle) yang dipakai untuk memutar alat tersebut. Dalam beberapa hal sering dipakai tripod (kaki tiga) dengan katrol dan tali yang dipakai untuk mencabut kembali stang-stang dan auger-nya dari lubang bor tersebut. De­ngan mempergunakan tripod pemboran tangan mungkin dapat mencapai kedalaman sampai 15 meter. Tanpa menggunakan tripod biasanya pemboran-tangan hanya mencapai kedalaman 8 sampai 10 meter. Bor tangan hanya dapat dilakukan dalam bahan-bahan yang cukup lunak, terutama dalam lempung lunak (soft clay) sampai teguh) firm clay).
Adalah tidak mungkin untuk melakukan pemboran tangan dalam batuan lunak (soft rock) atau dalam kerikil padat (dense gravel) dan sebagainya. Gambar L.1 menunjukkan bermacam-macam auger yang dipakai untuk melakukan pemboran- tangan. Auger type "iwan" adalah yang paling umum.
Casing tidak biasa dipakai dalam pemboran-tangan, tetapi dapat juga dipakai bila dipandang perlu. Misalnya untuk pemboran dalam bahan-bahan yang amat lu­nak atau bahan-bahan yang lepas, yang akan mengalami keruntuhan, bila kita ti­dak menggunakan casing. Juga apabila muka-air-tanah (water table) di tempat ter­sebut amat tinggi, kita memerlukan pemakaian casing.
                                                        
Pemboran dengan mesin (Machine Drilling)          
Motor penggerak alat bor pada umumnya terdiri dari bagian-bagian berikut :
1.       Alat yang dapat memutar stang-stang bor dengan kecepatan yang bisa di- tur, dan dapat memberikan gaya ke bawah.
2.             Pompa. untuk memompakan air pencuci (wash water) ke bawah, melalui bagian dalam stang bor.
3.             Roda pemutar (winches) dan derrick atau tripod untuk menaik dan menurunkan stang-stang dan alat-alat bor ke dalam lubang.
Ada bermacam-macam alat bor (tools) yang dapat dipasang pada ujung ke bel roda pemutar atau stang-stang bor. Dalam setiap hal, macam alat yang dipergu­nakan disesuaikan dengan macam tanah dan maksud pembuatan lubang bor terse­but. Cara-cara, dan macam alat-alat yang dipakai pada penggunaan alat-alat bor dengan motor penggerak, dapat diutarakan secara ringkas seperti berikut :

1.       Pemboran tumbuk (Percussion Drilling).
Pemboran-tumbuk dilakukan dengan memakai bermacarn-macam auger dan alat-alat yang biasanya dikenal sebagai "cable tools". "Cable tools" ini diikatkan pada ujung kabel dan diturunkan atau dijatuhkan ke bawah ke dalam lubang bor dengan memakai roda pemutar dan tripod atau derrick. Pemboran tumbuk biasa­nya dilakukan terhadap kerikil (gravels) dan pasir (sands) di mana tidak mung­kin dipakai auger atau core barrels.

2.       Pemboran dengan air (Wash Boring).
Dalam bahan-bahan lunak atau yang lepas, kadang-kadang dilakukan wash boring. Dalam hal ini, air dipompakan ke bawah melalui stang-stang bor ke alat pemotong (cutting tools) atau pahat pemotong (cutting bit), dan air pemboran ini mengangkut potongan-potongan atau hancuran tanah tersebut kembali keatas permukaan tanah. Bahan-bahan -yang didapatkan ini bercampur dengan air, dan hal ini tidak memungkinkan kita untuk mendapatkan-keterangan-keterangan yang dapat dipercaya tentang keadaan asli dari hahan-bahan tersebut di dalam tanah. Karena itu, wash boring tidak dianjurkan untuk dilakukan manakala kita mem­butuhkan catatan-catatan yang tepat mengenai bahan-bahan yang dibor tersebut.

3.        Flight Auger dan Core Cutters.
Untuk pemboran menembus bahan-bahan yang lunak atau bahan yang lepas, seperti lempung lanau (silt), dan pasir kelanauan (silty sands), dipakai bermacam- macam flight auger dan core cutters. Flight auger teristimewa baik dipakai bila­mana dibutuhkan kemajuan yang cepat. Walaupun tanah didapatkan tidak asli (disturbed), tetapi tanah tersebut masih menunjukkan kadar air sebagaimana aslinya, karena pada pemboran tersebut tidak dipakai pengaliran air. Core cutters dapat dipakai untuk mendapatkan inti (core) yang sambung-menyambung dan dalam keadaan hampir asli (undisturbed). Dalam bahan yang lunak core cutter dapat dengan mudah ditekan langsung kedalam tanah tanpa diputar. Dalam bahan- bahan yang lebih keras mungkin kedua-duanya harus dilakukan, yaitu dalam waktu yang bersamaan harus ditekan sambil diputar.

4.    Core Barrels.
Core barrels mula-mula diperkembangkan untuk pemboran dalam batuan. Walaupun alat ini pemakaiannya terutama masih untuk pemboran dalam batuan, tetapi perkembangan dalam lapangan "core drilling" baru-baru ini telah menghasilkan core barrels yang lebih maju sehingga dapat juga dipakai untuk pengambil­an inti (core) dari batuan-batuan yang hancur atau batuan yang lunak, juga untuk lempung keras dan kerikil serta pasir padat (dense gravels and sands). Bagaimana cara core barrels dipakai, dan bagaimana cara barrels memotong suatu inti, dapat dilihat pada Gambar L.2 dan L.3. Core barrels terutama terdiri dari dua tabung.
Tabung di mana terkandung inti, tidak berputar, sedangkan tabung luar, ber­putar, memutar pahat yang sebenarnya melakukan pemboran. Air dipompakan ke bawah melalui bagian dalam dari stang bor dan mengalir terus ke bawah di antara kedua tabung tersebut, lewat pahat dan kembali ke atas melalui bagian luar dari barrel. Fungsi air, pertama-tama adalah untuk mendinginkan dan sebagai pelu­mas pahat (bit), dan yang kedua, adalah untuk mengangkut potongan-potongan tanah ke atas permukaan tanah.
Gambar L5 dan L6 menunjukkan dua type core barrel yang biasa dipakai sekarang. Double tube core barrel (core barrel dua tabung) dimaksudkan untuk pamboran dalam batuan. Dalam hal ini, inti demikian kerasnya sehingga cukup tahan terhadap perusakan-perusakan, baik oleh pemegang inti sendiri (core catcher), maupun oleh air pencuci (wash water) yang mengalir lewat inti tersebut. Juga inti dapat diambil dari barrel tanpa mengalami kehancuran atau rusak menjadi ber­keping-keping.




Dalam batuan hancur (shattered rock) atau didalam tanah, pemegang inti (core catcher) dan air pencuci biasanya merusakkan inti, bahkan dapat menghan­curkan sama sekali. Untuk bahan-bahan semaiam itu dipergunakanlah triple tube core barrel. Dalam hal ini, contoh masuk secara langsung ke dalam tabung dalam, dan tidak berhubungan dengan pemegang inti maupun air pencuci. Perpanjangan tabung dalam (atau cutting shoe) ditekan ke dalam tanah mendahului mata bor yang memotong bahan sekitar bagian luarnya. Inti terpegang di dalam barrel oleh gesekan antara inti itu sendiri dengan permukaan dalam dari tabung dalam. Inti ini dapat diambil ke luar dari barrel, akan tetapi masih terpegang kuat di dalam tabung ketiga, yaitu tabung dalam pemisah (yang terdiri dari dua bagian) (split inner tu­be). Bila diperlukan, inti tersebut dapat tetap disimpan di dalam tabung dalam pe­misah ini dan diangkut kembali ke laboratorium, dan tetap tersimpan di dalamnya sampai perlu dikeluarkan .
Core barrel yang bentuk dan pembuatannya baik, dan yang pemakaiannya dilakukan oleh petugas yang berpengalaman bisa mendapatkan contoh (samples) dari lempung dari pasir padat, atau pasir kelanauan (silty sands) dengan hanya sedikit saja mengalami kerusakan (disturbance).

BAB III
PENUTUP

3.1                            Kesimpulan

Likuifaksi yang terjadi di Donggala-Palu diakibatkan karena adanya getaran gempa yang memicu terjadinya fraksi butiran kasar yang terkumpul di bawah tanah dan butiran halus serta air keluar. Likuifaksi ini membuat material tanah menjadi padat seperti lumpur.
Likuifaksi terjadi bukan karena beban di atasnya, namun akibat getaran gempa. Tetapi Likuifaksi dapat merusak konstruksi bangunan yang terdapat di atasnya. Likuifaksi sendiri tidak dapat dicegah, namun dapat dikurangi potensi terjadinya dengan mengecek terlebih dahulu jenis dan sifat-sifat tanah yang akan dibangun sebuah konstruksi bangunan. Metode yang dapat digunakan adalah Soil Boring.

3.2                            Daftar Pustaka

Wikipedia. 2018. Pencairan Tanah. https://id.wikipedia.org/wiki/Pencairan_tanah. Diakses pada 15 Oktober 2018.
Setiawan, Deni. 2016. Mekanika Teknik : Metode Penyelidikan Tanah di Lapangan. http://www.envi-c.com/2016/06/metode-penyelidikan-tanah-di-lapangan_20.html. Diakses pada 15 Oktober 2018.

Komentar